Memotret Lanskap Itu Mudah, Ini Caranya!

by | Jan 21, 2016 | News & Idea | 0 comments

Jakarta – Memotret bentang alam (landscape) tidak harus menggunakan tripod atau filter berlapis yang rumit. Juga tidak melulu bermain long exposure atau dengan berburu sunrise/sunset yang membutuhkan kesabaran tinggi.

Jauh lebih penting yakni mampu menghadirkan keindahan bentang alam dengan lugas dan tidak berbelit-belit. Sekaligus mengajak pembaca masuk dan merasakan apa yang terjadi dalam foto lanskap tersebut.

Untuk menjawab kebutuhan itu, fotografer amatir sekalipun, dengan jenis kamera apapun dapat melakukan dengan baik asalkan konsisten dan tahu tujuannya.

Berikut beberapa trik yang bisa dilakukan untuk mendapatkan foto lanskap yang ringkas namun tetap menghadirkan kejutan.

Keterangan foto: Lembah Jungfraujoch, Swis dengan 3 elemen utama: gunung, pedesaan dan pohon pinus tertutup salju. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Pertama, survei destinasi foto lansekap yang akan dikunjungi. Bisa dari mesin pencari di internet atau bertanya pada orang yang pernah ke destinasi tersebut. Termasuk beberapa spot dan tempat terbaik menghasilkan foto lansekap.

Selain itu, tidak ada salahnya mengetahui jalur yang akan dilewati apakah melewati lanskap yang fotogenik atau tidak. Siapa tahu bakal mendapatkan ‘bonus’ lanskap yang bagus saat perjalanan. Sehingga kamera bisa diaktifkan/standby guna mendapatkan kejutan lanskap dari dalam kendaraan.

Kedua, siapkan peralatan kamera yang dipunyai. Tidak harus rumit dan mahal. Cukup dengan kamera smartphone beresolusi tinggi, foto lanskap dapat diperoleh dengan meyakinkan. Bagi yang menggunakan mirrorless atau DSLR, pilihan lensa lebar menjadi pilihan yang tidak terelakkan. Gunakan focal lenght 24mm, 20mm atau 18mm untuk menghasilkan foto lanskap yang representatif.

Keterangan foto: Taman nasional Yosemite California dengan 3 subjek utama: ranting pohon, 2 pohon kiri-kanan sebagai frame dan pegunungan Yellowsmith di bagian belakang. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Jika belum menguasai mode manual (ISO-aperture-speed) dengan baik, tidak ada salahnya mengabaikan permainan teknis yang rumit. Jangan minder untuk mode otomatis. Justru ambillah keuntungan dari mode tersebut karena lebih cepat dan ringkas seperti kamera smartphone.

Oh iya, pastikan menggunakan ukuran file foto terbesar dan memory card mencukupi. Tidak lain untuk mengantisipasi faktor croping saat proses editing.

Ketiga, jepretlah lanskap dengan komposisi yang konsisten. Apakah akan menggunakan rule of thirds, dead center, abstrak atau negative space. Dengan konsistensi ini, mata lebih fokus membingkai landscape dengan cepat dan ringkas. Cerita pun menjadi tidak rumit dan mudah dinikmati.

Sebaliknya, dengan komposisi tidak konsisten membuat perhatian fotografer berantakan. Instruksi dari mata ke otak untuk menekan shutter menjadi terhambat dan membuat mood/momen bisa keburu hilang.

Keterangan foto: Lanskap pedesaan antara Munich dan Swiss. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Keempat, jangan terlalu banyak subjek/elemen dalam foto lanskap. Gunakan setiap elemen tersebut seefisien mungkin. Dan pastikan setiap unsur yang ada dalam foto lansekap mempunyai alasan dan fungsi untuk membangun cerita.

Dengan metode ini, memotret lanskap dari dalam kendaraan sekalipun bisa berlangsung cepat. Sebab, fotografer langsung terbiasa menyortir apa-apa yang perlu dan mana yang tidak perlu untuk dimasukan ke dalam frame.

Misalkan dalam sebuah lanskap terdapat beberapa elemen sekaligus: langit biru, awan kapas yang fotogenik, perbukitan hijau, sungai atau danau, deretan pepohonan yang rapih, jalan setapak yang meliuk cantik, batu besar nan elok, rumah petani yang homy hingga apapun yang menarik dan muncul tiba-tiba.

Nah, mata seorang fotografer harus secara cepat menyortir elemen itu menjadi ‘seting panggung’ yang nyaman dilihat, sederhana, tidak berantakan dan gampang dicerna.

Langsung tentukan cerita dengan spontan dan menarik. Kemudian pilih elemen utama sebagai fokus. Beri tambahan elemen lain yang diperlukan sebagai pendukung cerita. Lantas pilah mana-mana saja yang perlu dimasukkan ke frame dan mana yang tidak perlu dijepret sebagai unsur dekoratif.

Jangan sampai sebaliknya, berambisi untuk merekam semuanya sehingga menjadi terburu nafsu dan membuat cerita berantakan. Atau, ini yang biasanya terjadi, bingung menentukan Point of Interest (PoI) apakah akan memotret langit biru ataukah lansekap tanah yang indah. Kebingungan menentukan ide besar ini yang membuat foto lansekap menjadi kurang kuat dan rumit sendiri.

Keterangan foto: Kawah putih Ciwidey dijepret dengan komposisi rule of thirds. Ranting di bagian foreground berfungsi sebagai unsur decoratif. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Kelima, koreksi di sofware/aplikasi dengan praktis dan efisien. Biasanya dengan cropping terlebih dahulu untuk menentukan fokus cerita (PoI). Kemudian meluruskan garis horizontal dan diakhiri dengan koreksi dari sederhana (dodging/burning/saturasi) hingga yang terumit dengan layer berlapis — bila diperlukan.

Apapun trik dan cara koreksinya, buatlah foto lansekap senyaman mungkin dan tidak membingungkan. Gambar yang ringkas itu pun menjadi terkontrol dan mampu menghasilkan cerita yang mudah dicerna, indah dan menyenangkan.

Keterangan foto: Memotret lansekap dari dalam kereta salju di kawasan Jungfraujoch, Swiss. (Foto: Ari Saputra/detikcom)